Mana Suka Siaran Niaga


Saya dalam Kamera Ed Zoelverdi

BLOKABAR

Wah, saya masuk nominasi Anugerah Sagang lagi, untuk kategori yang sama dengan tahun lalu: ANUGERAH SERANTAU. Tahun ini saya "bersaing" dengan 1. Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang)2. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (Jogjakarta) 3. Tusiran Suseno (Tanjungpinang), dan 4. Yayasan Panggung Melayu (Jakarta). Awal bulan depan, pemenang akan diumumkan. Saya tentu saja menghargai kerja serius panitia dan juri dari Yayasan Sagang. Tapi, ah tetap saja belum merasa telah berbuat apa-apa (stay hungry, stay foolish, kata Steve Jobs) dan dengan begitu saya juga merasa tak berhak untuk mengharap apa-apa.

INI blog saya yang kesekian setelah blog SEJUTA PUISI yang terkenal itu ;-)

hasanaspahani search engine, cobalah! .:. Saya menambahkan dua kategori tulisan, yaitu BLOWJOKE dan INSPIRIT - yang pertama lelucon-lecucon semoga saja bisa menggelitik kecerdasaan humor. Yang kedua tulisan-tulisan yang semoga saja mencerahkan .:. SELAMAT DATANG di BULAN RAMADAN 1429 H. Allah itu Baik. Ia ciptakan PUASA, sebuah rangkaian ibadah yang UNIK. Terima Kasih, Ya Allah .:. Wawan Eko Yulianto yang kini sedang di Arkansas berkomentar: SATU LAGI PENYAIR HADIR DI FACEBOOK. Sebenarnya saya sudah lama punya akun di mainan hebatnya bocah Zuckerman itu, cuma gak tahu harus diapakan. Sekarang tampaknya bakal keasyikan. Di antara teman-teman baru facebooker saya: Nirwan Dewanto dan Hermawan Kertajaya.

ATAS undangan Ministry of Information, Culture and Arts (MICA) Singapura, saya akan berada di negeri itu 27 Oktober hingga 1 November 2008. Saya diundang sebagai jurnalis, bukan sebagai penyair, dan tentu juga bukan sebagai blogger. Semoga akan banyak oleh-oleh menarik dari sana.

Juni 17, 2009

Kéré “Paman Tyo” Kêmplu

DULU, dia tampil di balik nama dan sosok samaran. Ia menyebut dirinya Kéré Kêmplu. Siapa dia? Pada zaman “kegelapan” itu, di blognya (gombal.blogdrive – yang sampai detik ini masih bisa diklik) yang top markotop itu ia jelaskan (tapi sama sekali tak menjelaskan, namanya juga samaran) bahwa dia adalah seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta.



Supaya meyakinkan dia pun memasang foto seorang lelaki tua, berkaca mata tebal dengan pose yang mantap, khas pasfoto zaman dahulu kala. Saya kok lupa bertanya, siapa foto itu sebenarnya.

Sesuai dengan nama blognya: Gombal, maka ia menyebut tulisannya sebagai gombalan. “Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan,” begitu katanya. Gombal, bukan?
Kredo blognya adalah ‘Catatan Ringan Angin-anginan’. “Anda jarang kemari akan ketinggalan. Anda rajin bertandangan saya yang keteteran,” katanya lagi. Lagi-lagi kalimat tengil yang amat gombal.

Pada suatu hari, saya pun tersesat ke sana. Sebagai blogger hina dina, tentu saja saya juga amat penasaran dibikin oleh blog dan bloggernya itu. Pertanyaan paling menggoda adalah, “dia ini siapa sebenarnya?”

Rasanya dia sengaja sedang mempermainkan orang banyak dengan menyamar di balik nama dan sosok fiktif. Rasanya dia ini kok orang hebat yang namanya sudah amat terkenal, dan sedang menyamar. Rasanya dia ini pernah saya baca tulisannya….

Saya pun ikut-ikutan arus besar umat blogger kala itu yang sibuk menebak sosoknya, sambil terus menikmati gombalan-gombalan yang ia bagikan. Mula-mula saya kira dia Arswendo Atmowiloto. Soalnya, tulisannya itu mengingatkan saya pada kolom Arswendo dulu di Kompas, ketika dia ikut mengisi kolom Asal Usul bergantian dengan almarhum Mahbub Junaidi. Tebakan pertama salah total…

Saya melacak lagi. Pada suatu hari lainnya, di blog itu ada juga ditampilkan koleksi label unik. Aha, saya lansung ingat dengan sebuah kolom di majalah Jakarta-Jakarta. Kolom itu ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Kolom itu selalu dihiasi ilustrasi macam ragam label unik. Saya tebak lagi, jangan-jangan di Kéré Kêmplu ini adalah Seno. Tebakan itu juga dia bantah. Tapi, ah itulah gombalnya dia ini, tak juga dia mau berterus-terang siapa dia sebenarnya.

Di kali lain, blog ini menampilkan koleksi merek rokok yang lucu-lucu dan di kota-kota kecil di Jawa banyak sekali. Saya tidak kapok. Saya ingat pernah baca tulisan tentang rokok pinggiran itu di Kompas. Yang menulis Butet Kertaredjasa. “Sampeyan Butet, ya?” saya tebak lagi lewat e-mail. Lagi-lagi saya salah.
Seperti orang kurang kerjaan saja, semakin lama upaya mencari tahu siapa beliau ini semakin mengasyikkan. Saya putar strategi. Saya akhirnya mencari tahu lewat blogger lain yang pasti sudah ada yang tahu siapa dia.

Saya untuk itu harus berterima kasih kepada blogger Totot “Pakde” Indrarto (pakde.com), pekerja kreatif iklan yang bertahun-tahun kerjaannya bolak-balik naik panggung Citra Adipariwara. Penerima Piala Citra untuk kritik film ini memberi beberapa isyarat kunci. Aha, akhirnya saya pun berhasil menebak siapa dia. Dalam e-mail, saya sertakan nomor ponsel. Dan siang itu dia menelepon.
“Halo Hasan, saya Antyo Rentjoko….”

Dialah yang oleh sejuta umat blog di Indonesia kini dikenal sebagai Mas Paman, Mase, dan yang paling akrab (dan dia tampaknya rela belaka dengan panggilan itu) adalah Paman Tyo!

Sabtu lalu, bersama Enda “Bapak Blog Indonesia” Nasution (sosok yang layak diceritakan lebih panjang lewat tulisan lain), Paman Tyo hadir di acaranya Batam Blogger Community. Saya – dengan besar kepala - mendampingi kedua selebritas blog itu plus Wakil Walikota Batam Ria Saptarika dalam pertunjukan omong-omong di BCS Mall.

Ini bukan pertemuan pertama kami. Di Jakarta, di sela-sela dinas, saya selalu berusaha menyempatkan ngobrol dengannya. Pertama kali, kami bertemu di Kafe Oh Lala. Kami berempat: saya, Pakde Totot, Windede (blogger top asal Kalimantan yang kala itu atas nama dinas, sudah bermukim di Jakarta juga), dan Paman Tyo. Bagi saya, ngobrol dengan orang-orang hebat itu, sama saja dengan me-recharge otak dan mengokang senjata kreativitas.

***

Saya kira, Paman Tyo adalah salah satu orang yang paling bertanggung atas mewabahnya blog dan blogger di Indonesia. Lewat blognya, orang banyak terinspirasi.

Ini bukan kata saya. Ini kesaksian seorang pengunjung blognya. Katanya, "(siapa) yang dalam fase 'malas-posting' ada baiknya LEBIH SERING berkunjung ke bloGombal! Banyak sumber inspirasi yang bisa anda temukan (walau nyelip...)." Nah, kan?
Ya. Inspirasi, dan kegairahan menjadi blogger. Itulah yang terus-menerus ia tularkan. Apalagi, setelah masa “penyamarannya” berakhir. Blog Gombal versi lama mengumumkan posting terakhir pada tanggal 1 Agustus 2006. Pindah kontrakan, katanya. Sejak itu dia bemukim di blogombal.org. Lihat itu, ekstensi blognya pun (dot)org, bukan (dot)com atau (dot)net.Seakan-akan ia mau bilang bahwa dia adalah seorang pengorganisir kegombalan! Gombal benar!

Anda yang belum punya blog dan ingin jadi blogger, Anda yang sudah punya blog tapi belakangan malas ngeblog, atau Anda yang sekedar heran kenapa ada orang keranjingan blog, ada baiknya membaca “6 Alasan untuk Ngeblog”. Ini saya contek sepenuhnya dari blog lama Paman Tyo.

Dia mengantar tulisannya itu begini: Iya ya, kenapa saya ngeblog. Bila melakukan kegiatan online lain saya dapat faedah, maka dengan bermain blog saya juga dapat manfaat. Jadi, apa dong alasan buat ngeblog?

Dan enam alasan itu pun ia uraikan. Begini:

[1]. Membuang lamunan, supaya benak jadi enteng. Baik lamunan di jalan, selagi nongkrong di kloset, maupun lagi apa saja. Ibaratnya, blogging adalah nge-flush otak.

[2]. Belajar menulis. Jangan geli, sejak SD saya memang sudah diajari guru untuk menulis, tapi sampai setua ini proses penulisan saya belum lancar. Maunya nulis kilat tapi enak dibaca. Nggak seperti undang-undang: nyiapinnya lama, dibacanya nggak enak. Sekarang sih kilatnya sudah [sedikit], tapi enaknya belum. Termasuk bagian dari belajar menulis adalah belajar berbahasa, dalam arti menata pikiran karena bahasa adalah alat kesadaran dan instrumen berpikir [uh, muluk-muluk].

[3]. Berbagi. Apa yang saya nyatakan juga dibaca oleh orang lain, sama seperti saya membaca tulisan mereka. Ini lebih menarik daripada menulis surat pembaca di koran, yang pemuatannya tergantung kesudian editornya [mana nggak dapat honor pula]. Dari blog lain saya sering mendapatkan informasi berharga, bahkan bahan renungan. Intinya saya dapat hikmah.

[4]. Bertambah teman virtual. Betul, ketemu saja nggak pernah [dan mungkin nggak perlu ya? hahaha!], tapi dengan blogger tertentu rasanya ada semacam ikatan untuk saling memperhatikan. Bentuknya? Saling mengapresiasi kalau memang layak apresiasi, saling koreksi kalau memang ada yang harus dikoreksi [termasuk salah ketik saya], saling mendukung kalau ternyata dukungan memang lagi diperlukan. Juga, dari sisi saya, kesiapan menuai kritik pedas maupun kecaman jika pandangan saya ternyata tak cocok di hati maupun benak orang lain.

[5]. Bisa disambi. Blogging adalah jenis kegiatan yang bisa disambi. Lain dengan chatting, yang kadang harus real time kita tongkrongi, karena sekali kita online dan menyatakan diri online tapi nggak kasih respon maka kita akan dipanggil-panggil terus.

[6]. Terhibur, menghibur. Saya sering mendapatkan keriangan saat membaca blog lain. Jadi, saya terhibur. Ketika menulis untuk blog saya sendiri, saya juga sering mendapatkan rasa senang. Bisa dikatakan blog saya ini punya fungsi terapetik untuk kesehatan jiwa saya. Saya nggak tahu apakah blog saya juga menghibur bagi orang lain. Bisa saja buat saya menghibur, tapi buat orang lain ngeselin -- dan rasa kesal itu tak dilarang oleh undang-undang manapun.


***

Saya tak tahu, apakah kini alasan dia ngeblog berubah. Saya kira ya. Soalnya, ah… lain kali sajalah saya ceritakan. Tetapi, enam alasannya itu dulu saya amini semua. Saya setuju, menambahkan satu dua alasan, dan itu membuat saya tidak menyesal telah ngeblog juga sejak Desember 2003. Terima kasih, Paman Tyo!***

Selanjutnya...

Februari 05, 2009

Mengambil Telur Tuhan

MARI bicara lagi tentang sajak. Kali ini kita bicarakan sajak presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri. Konon, gelar presiden itu ditabalkan oleh sahabatnya Abdul Hadi WM. Di Taman Ismail Marzuki, keduanya mabuk. Sambil berangkulan Abdul Hadi bilang, “Dji, malam ini kau kuangkat jadi presiden, dan aku wakilnya…” Esoknya koran-koran menulis: Sutardji jadi Presiden Penyair Indonesia. Sejak itu gelar presiden penyair seakan menempel padanya. Tapi, gelar wakil presiden penayir bagi Abdul Hadi sama sekali terlupakan. Ah, memang, jadi wakil presiden itu tidak enak rupanya. Gampang dilupakan.


Baiklah, kita bicarakan saja sajaknya. Sajak dari buku "Atau Ngit Cari Agar" (2008). Saya kira kita beruntung punya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang menulis sajak dalam rentang waktu yang panjang. Kita catat dulu, ia lahir tahun 1941. Tahun ini 68 umurnya. Nah, mari kita manfaatkan keberuntungan kita itu dengan membandingkan dua petikan sajak. Dua sajak berjarak 30 tahun! Sajak pertama dia tulis ketika dia berusia 35 tahun.

Sajak kedua dia tulis pada usia 64 tahun.

Petikan I: sepasang burung darah / sepasang burung gairah / terbang / ke langit diri / membuat telur teduh / yang tenang / yang tuhan / dalam sarang / di langit diri // maka / seorang tarji / calzoum / bachri / terbang / mengambil / telur tuhan / mencoba / menetaskannya / diri // (Sarang, 1976)

Petikan sajak pertama ini terbit dalam buku Atau Ngit Cari Agar. Sajak itu ditulis pada periode Kapak, yaitu 25 sajak yang ia tulis dalam selang waktu 1976-1979.
Kenapa SCB tidak memasukkan sajak ini dalam kumpulan Kapak sehingga jadi 26? Apa salah sajak ini? Sebentar, masih ada lima sajak lain di buku Atau… yang juga bertahun dalam selang itu, tapi juga tidak di-kapak-kan.

Kenapa dia tidak menyusulkan saja sajak itu kemudian, bukankah buku kumpulan O Amuk Kapak dicetak pada tahun 1981? Lalu kenapa juga masih ada dua sajak bertahun 1975 yang juga tidak digabungkan ke kumpulan O (sajak-sajak 1973-1976).

Dugaan saya ini bukan karena SCB menganggap sajak itu buruk. Toh, akhirnya sajak itu tiga puluh tahun kemudian dibukukan juga. Saya menduga perkaranya adalah kesatuan tema. Dalam pengantar Kapak, SCB menulis: Tidak seperti sajak-sajak saya yang terdahulu yang banyak dengan pencarian ketuhanan, dalam sajak-sajak selanjutnya maut lebih mempesona saya. Nah, sajak yang kita petik tadi temanya adalah pencarian ketuhanan itu.

Saya kira dengan sajak-sajak itu dia hendak menyiapkan sesuatu, menyiapkan puncak lain, sehingga sajak-sajak itu ia simpan saja dahulu. Atau bisa jadi dia sudah sangat puas dengan O Amuk Kapak, kumpulan yang ia sebut sebagai tiga puncak kepenyairannya, lalu ia gamang bila lompatan berikutnya tidak mencapai puncak lain yang lebih tinggi dari tiga puncak itu, sehingga sajak-sajak itu akhirnya hanya tersimpan lama.

Sekarang mari kita simak petikan sajak kedua: retak / katakata tumbang / runtuh / porak poranda / koyak moyak kamus / makna hapus // dalam banyak tenda / para korban keruntuhan kata / menjerit tanpa kata // negara asing tak sanggup bantu / mustahil selamatkan korban / lewat asing kata / bahkan terjemahan / pun / tak // (Gempa Kata, 2005)

Apa yang terasa setelah menyanding dan membandingkan kedua sajak itu? Pertama saya setuju dengan sahabatnya Abdul Hadi, wakil presiden penyair yang terlukapan itu. Ia menilai kecenderungan sufistik pada Sutadji ada sejak sajak-sajak awalnya. Tetapi kecenderungan itu terhalang oleh skeptisisme dan nihilisme yang begitu kuat menggoda perasaan penyair.

Ya, ada usia 35 tahun, Tardji sepertinya masih berada dalam pencarian, ia merindukan Tuhan, ia menuju Tuhan, tetapi pada saat yang sama ia menolak cara-cara bertemu dan berhubungan dengan Tuhan yang telah diajarkan padanya. Ia ingin menemukan caranya sendiri. Ia sebut itu sebagai tindakan mengambil telur Tuhan dan menetaskannya sendiri. Menetaskan telur Tuhan baginya adalah menetaskan diri sendiri. Bila dirinya telah menetas, bila ia telah menemukan dirinya sendiri, dia berharap dari diri sendiri itu dia bertemu Tuhan yang ia rindukan.

Lihatlah, betapa Sutardji bahkan menghadirkan diri sendiri dalam sajak dengan menyebut lengkap namanya: Sutardji, Calzoum, Bachri. Tak banyak penyair yang melakukan itu, tidak pada Goenawan, tidak pada Sapardi, tidak pada Joko Pinurbo. Chairil Anwar melakukan itu – dengan modus penyebutan yang amat berbeda - pada sajak Mirat Muda, Chairil Muda. Empat kali dia sebut Chairil, antara lain dalam bait Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil. Rendra pun tak seberani itu, dalam satu sajak ia menyebut dirinya sebagai Willy, nama panggilannya. Penyair yang lebih kini yang melakukan hal itu sepembacaan saya adalah Sitok Srengenge.

Kita kembali ke Sutardji. Kondisi kejiwaan dan keruhanian yang sudah amat berbeda tampak pada periode setelah tahun 2000-an, seperti terwakili dengan petikan sajak kedua itu.

Ia sepertinya telah menuntaskan pencariannya. Ia yang sudah berumur 64 tahun mulai memalingkan perhatian pada kehidupan orang banyak, ia mulai prihatin pada nasib bangsa. Sepanjang usianya ia telah melihat, menghayati, menjadi saksi perjalanan sebuah bangsa, dan ia tidak bisa untuk tidak memberi komentar, nasihat, atau peringatan pada orang banyak atas kondisi itu.

Demikianlah, seorang penyair besar dengan karya-karyanya, terus berproses, menggali tema, memperluas perhatian, menuntaskan pencarian, bertahan pada intensitas yang tak tertandingi, dan itu adalah pelajaran penting bagi kita.

Makna sajak-sajaknya sendiri adalah karya yang amat pantas menjadi renungan. Tengoklah petikan kedua sajak yang kita bicarakan di sini. Ia sedang menghantam kehidupan kita kini yang semakin lama semakin mudah jatuh pada pemujaan pada yang permukaan, tanpa kedalaman.

Hidup kehilangan makna, tanpa tujuan. Ibarat kata-kata yang retak, tumbang, runtuh, porak-poranda. Kamus - barangkali itu bisa kita anggap sebagai metafora dari kitab rujukan moral - tak lagi diindahkan. Kita pun lantas hidup tanpa tujuan, hidup tak lagi bermakna. Siapa yang bisa menyelamatkan kita dari kehancuran ini? Bukan orang lain. Tapi kita sendiri, bahasa kita sendiri, bukan nilai-nilai orang lain yang asing, meskipun itu telah disuai-suaikan ke dalam bahasa kita sendiri. Negara asing tak sanggup bantu. Mustahil selamatkan korban lewat asing kata. ***


Selanjutnya...

Muhamad Nur Raih Adinegoro 2008 dan Rp50 Juta

Kamis, 05 Pebruari 2009

Jakarta (ANTARA News) - Muhamad Nur, wartawan Batam Pos, meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta untuk kategori Pembangunan Kemanusiaan atas karyanya berjudul "16 Tahun Menyerah, Dikalahkan Ombak dan Hama Babi" yang dipublikasikan Batam Pos edisi 27 Desember 2008.


Karya tulis jurnalistik Muhamad Nur meraih nilai 401, dan menyisihkan 36 tulisan lainnya yang termasuk unggulan dengan sisi penilaian secara tematik, materi dan penguasaan Bahasa Indonesia, demikan hasil keputusan Dewan Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008, di Jakarta, Kamis.

Dewan juri terdiri atas Artini Suparmo PhD (wartawan senior, pemenang Adinegoro sebanyak dua kali, dan dosen London School Public Relations/LSPR), Atmakusumah Astraatmadja (mantan Ketua Dewan Pers dan dosen senior Lembaga Pers Dr. Soetomo/LPDS), dan Radhar Panca Dahana (budayawan, dan pengasuh kolom sastra di satu media massa nasional).

Selain itu, Tribuana Said (anggota Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia/PWI Pusat, dan dosen senior LPDS), serta DR Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang APU (pakar dari Pusat Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional/Depdiknas).

Dewan juri penghargaan tertinggi dari PWI Pusat untuk karya tulis jurnalistik tersebut juga memutuskan tidak adanya pemenang untuk Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 kategori Pembangunan Demokrasi lantaran tidak ada yang memenuhi standar sesuai ketentuan lomba dan harapan yang didiskusikan para juri.

Muhamad Nur dijadwalkan menerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2008 dan uang senilai Rp50 juta pada Malam Pers Perjuangan, yang menjadi puncak dari serangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2009 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 9 Februari mendatang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan hadir dalam acara puncak HPN 2009 yang bertema "Kemerdekaan Pers Dari dan Untuk Rakyat."

PWI memberi nama Adinegoro untuk penghargaan tertinggi di bisang karya jurnalistik guna mengenang kejuangan salah seorang tokoh pers nasional yang memiliki nama lengkap Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan, yang juga adik dari tokoh kemerdekaan nasional M. Yamin.

Adinegoro yang lahir di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta 8 Januari 1967 itu, mengeyam pendidikan kewartawanan di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda) sebelum kembali ke tanah air tahun 1931 untuk menjadi Pemimpin Redaksi Panji Poestaka untuk kemudian memimpin surat kabar Pewarta Deli.

Namanya juga diabadikan untuk Yayasan Pendidikan Multimedia Adinegoro yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) sebagai satu institusi yang mengabdi untuk membangun/meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang jurnalistik. (*)


Selanjutnya...

November 13, 2008

Sebagai Bajingan Aku Telah Kauterima

- Sebuah Renungan untuk Hari Pahlawan -
T
TAK ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis, selain mengetahui bahwa tulisannya dibaca oleh orang lain. Diam-diam, beberapa orang membuat sebuah organisasi yang amat lentur bernama PKK alias Penggemar Kolom Kamisan. Ada yang suka mengusulkan tema itu ini, ada juga yang rajin berkomentar. Kepada merekalah kolom ini kali ini saya tulis.




Menjadi pahlawan itu ternyata mudah. Apalagi kalau kita tidak meniatkannya. Teman saya misalnya tiba-tiba bisa jadi 'pahlawan' ketika pada suatu hari dia mengembalikan kupon jatah bensin dari kantor, karena jatah itu amat berlebihan buatnya. Menjual kupon yang tidak bisa diuangkan itu buat dia adalah korupsi, jadi ya dia kembalikan saja. Apalagi dia tahu, manajemen kantornya sedang berhemat, dan dia tentu harus mendukung gerakan penghematan itu.

Kadar 'kepahlawanan' kawan saya itu bertambah ketika kemudian kantornya akhirnya meninjau kebijakan pembagian kupon bensin. Dan kelahiran seorang 'pahlawan' selalu makan 'korban'. Kolega kantor teman saya tadi yang telanjur mengeset gaya hidup tinggi - misalnya dengan memiliki dua atau tiga mobil di rumahnya - tentu saja menyumpahi dia.

"Kau itu memang seperti Robinhood," kata saya.

Robinhood, di mata sahabat-sahabatnya para penjahat di hutan Sherwood, adalah pahlawan. Ia juga pahlawan bagi orang-orang miskin di Nothingham. Tapi, bagi para bangsawan dan hartawan di kota itu - yang hartanya kerap dirampok - dia adalah bajingan.

Menjadi pahlawan itu ternyata memang mudah. Kita bisa jadi pahlawan dengan memakai sedikit keberanian untuk melawan sesuatu yang menyimpang ke arah yang salah. Kita bisa jadi pahlawan dengan sedikit saja menimbang - ketika menerima sesuatu - lantas bertanya adilkah ini buat saya dan buat orang lain yang terkait dengan saya?

Dua kali sudah saya sebutkan bahwa menjadi pahlawan itu mudah. Sebuah kelompok - sekecil apapun - selalu memerlukan seorang pahlawan. Dari Kamus Umum Bahasa Indonesia saya menemukan kata 'altruisme'. Kata ini dilawankan dengan kata 'egoisme', dan diuraikan sebagai 'cinta yang tak terbatas terhadap sesama manusia; sifat yang tidak mementingkan diri sendiri'. Pahlawan saya kira adalah orang yang mampu mengalahkan egoisme dalam dirinya dengan altruisme.

Saya percaya bahwa sekelompok orang yang hendak lekas bergerak maju memerlukan seorang pahlawan. Bila kata pahlawan itu terasa amat kuno, maka para pemikir manajemen modern menerjemahkannya dengan amat baik dengan istilah leader atau pemimpin. Kita kini lebih nyaman menerima istilah 'leadership' daripada 'heroism'. Lihat istilah itu, hero ternyata lebih dekat pada 'isme' pada keyakinan atau kepercayaan. Lagi pula, kini terminologi 'pahlawan' itu sendiri sudah amat bias. Kawan saya mungkin sebenarnya tengah diolok-olok dengan kalimat, "memang pahlawan betullah kau ini..." Lihat, rasakan, ada nada mengejek di kalimat itu, bukan?

Seperti kawan saya itu, saya teramat sering diselamatkan oleh tindakan-tindakan kecil orang-orang yang di mata saya adalah pahlawan saya. Mereka pasti tidak ingin saya pahlawankan. Tapi, buat saya tanpa bantuan mereka pada saya, maka saya tak akan pernah sampai ke mana-mana. Saya tahu mereka sekedar mengikuti altruisme dalam diri mereka. Karena saya tahu mereka tak menuntut balas dari saya, maka saya selalu terdorong untuk meniru mereka dengan menolong orang lain. Ah, betapa sok pahlawannya saya, bukan?

Belajar dari kisah teman saya dari, maka, bila dihadapkan pada pilihan, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Robinhood adalah bajingan. Dia adalah seorang kriminal yang di mata sherif punya seribu alasan untuk dijebloskan ke tahanan atau bahkan ke tiang gantungan.

Baiklah, saya ingin menjadi bajingan yang seperti suka kutip dari bait sajak W.S. Rendra yang amat saya sukai, "...Sebagai bajingan aku telah kauterima". Rendra sebenarnya tidak bicara sepenuhnya tentang seorang bajingan, ada nada gagah seorang pahlawan dalam sajaknya yang berlatar Kota New York itu. Ia bercerita tentang percintaan yang membuat hidup bergairah tetapi tidak mengubah hidup itu sendiri.

Hidupku dan hidupmu
tidak berubah karenanya.
Masing-masing punya cakrawala berbeda.
Masing-masing punya teka-teki sendiri
yang berulang kali menggayangnya.


Demikianlah, Rendra mengakhiri sajak bertajuk "Kepada M G" dalam buku "Blues untuk Bonnie". Tetapi, sebelum diakhiri dengan bait itu, telah ia sebutkan bahwa ... Hidup telah hidup dan menggeliat. Waktu gemetar dalam ruang yang gemetar... Rendra mungkin sangat sadar bahwa dalam lingkup kecil, hubungan antarpribadi misalnya, jarak antara seorang bajingan dan pahlawan teramat tipis. Seorang bajingan bisa saja dikenang abadi sebagai pahlawan, justru karena tindakannya yang amat jauh dari niatan untuk jadi pahlawan.

Kita mungkin lebih mudah menerima pahlawan yang seperti itu. Dan para pembuat karakter komik tampaknya amat tahu psikologi itu. Maka, Clark Kent pun tampil culun walkuper dengan kacamata dan rambut klimis agar orang tak serta merta tahu bahwa dialah Kar El si supermanusia itu. Peter Parker merancang cadar karet ketat dengan hanya bukaan sedikit pada dua mata, agar orang tak tahu bahwa dialah the human spider itu. Para superhero itu - serekaan apapun mereka - ketika beraksi di balik topeng, sesungguhnya juga tengah melupakan sisi manusianya. Dengan kata lain, saat itu mereka membuang jauh egoisme dan mengikuti setulus-tulusnya naluri altruisme.

Maka, saya sebenarnya lebih memilih jadi bajingan daripada pahlawan. Ada semacam gairah dalam keinginan itu, seperti gairah bajingan dalam sajak Rendra. Hidup jadi lebih hidup, tidak seperti si Negro - dalam sajak "Blues untuk Bonnie - yang menegur sepi dengan mata terpejam."... Dan sepi menjawab dengan sebuah tendangan jitu tepat di perutnya". Betapa tidak bergairahnya.

Sebuah iklan politik kini dipersoalkan banyak orang. Jadi wacana yang hangat. Pangkal soalnya adalah sebuah nama, yakni Soeharto. Mantan penguasa kita itu dijejerkan bersama nama lain dan diberi sebutan pahlawan dan guru bangsa. Rupanya bagi Soeharto sebutan pahlawan itu masih amat bermasalah.

Saya bukan Soeharto. Dia taktikus besar, tapi kemudian lupa bahwa kuasa punya batas. Saya hanya ingin jadi 'bajingan', yang paling tidak membuat hidup saya sendiri menjadi bergairah. Dan untuk itu saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang mendorong-dorong saya untuk jadi 'bajingan'. Sebab, dengan gairah itu kemudian saya jadi tak gentar menghadapi apapun, menyerentaki hidup bergerak ke arah yang lebih baik.

Ada satu aturan main penting dalam kredo seorang bajingan. Bajingan tidak perlu merasa takut pada bajingan. Ia hanya malas berurusan dengan orang yang 'sok pahlawan' dan terlebih lagi amat muak pada orang yang 'sok bajingan'. Kalau kemudian ada yang mempahlawankan saya, 'si bajingan' ini, maka itu artinya saya harus lekas menelepon Rendra, sebab, "sebagai bajingan aku telah kauterima!"***

Selanjutnya...

November 11, 2008

Yang Berkhidmat, Bukan Yang Berhormat



* Bagaimana Parlemen Singapura Melayani Rakyat

:: Laporan: Hasan Aspahani, Singapura

People Action Party (PAP) benar-benar berkuasa di Singapura. Partai warisan mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yeuw - yang kini menjadi menteri senior itu - menempatkan 82 kadernya di parlemen. Partai berlambang bak gambar sambaran listrik milik tokoh animasi Flash ini hanya menyisakan dua kursi, untuk dua partai oposisi, yaitu Singapore Democratic Party dan Worker Party.






Dominasi PAP itu tidak diraih dengan mudah. Partai dan kader partai bekerja keras sebelum dan sepanjang masa mereka duduk di Parlemen. Kerja keras itu tujuannya cuma satu: mempertanggungjawabkan kepercayaan pemilih. Ada satu mekanisme yang menjamin anggota parlemen dan konsituennya tetap bersentuhan yaitu Meet-the-People Session (MPS).

Pekan lalu, Selasa (28/10) malam, pukul 08.00 waktu Singapura (lebih lekas satu jam dari WIB), saya menyaksikan sesi itu. Bersama sejumlah wartawan lain peserta 16th Indonesia Journalist Visit Programme atas undangan Ministry of Information, Culture and Art (MICA) Singapura, saya merasakan betapa percaya dan bergairahnya penduduk dari dua blok rumah susun di kawasan Woodland, Admilralty (semacam daerah pemilihan) Sembawang, mengadukan masalahnya ke anggota parlemen yang menang dari konstituen itu Dr Mohd Maliki Osman.

MPS adalah pertemuan mingguan. Dr Maliki memilih hari Selasa. Anggota parlemen lain - termasuk para menteri dan bahkan Perdana Menteri - bisa membuat jadwal di hari lain. Dr Maliki tidak bekerja sendirian. "Saya dibantu enam relawan," katanya. Bersama tim relawannya itu, tiap pekan ia menggilir pertemuan dengan rakyat, tiap sesi cukup terlayani dua blok perumahan.

"Kami benar-benar relawan. Tak ada bayaran apa-apa. Benar-benar kami hanya ingin menolong rakyat," kata Justus Chua, salah seorang relawan yang malam itu amat sibuk membantu Dr Maliki. Justus adalah pengacara. Kebetulan di PAP dia adalah Sekretaris Cabang Admiralty Sembawang. Lima relawan lain latar belakangnya beragam, dan mereka bukan pengurus partai.

MPS adalah mekanisme penyerapan dan penyaluran aspirasi rakyat yang amat efektif. Kalau pun masalah yang dihadapi rakyat tidak segera dipecahkan, setidaknya ada jaminan bahwa perkara itu telah sampai ke penguasa. Tak ada aspirasi yang buntu. Dari MPS itu pula kelak peraturan-peraturan baru dirumuskan, kebijakan-kebijakan prorakyat dikeluarkan.

"Saya mau sampaikan ke Dr Maliki yang suami saya sudah lama tak kerja," kata Farida, seorang perempuan berkerudung yang antre di meja pendaftaran.

"Kami mau minta bantuan buku untuk anak saya. Dia naik darjah, tapi sekarang mahal buku pelajaran," kata Eliza yang juga menunggu dan seraya itu berbincang dengan Farida. Mereka tetangga rumah susun.

Pertemuan malam itu, sebagaimana pekan-pekan sebelumnya, diadakan di lantas dasar rumah susun di kawasan Woodland. Ruang-ruang itu sebenarnya adalah sebuah taman kanak-kanak Woodland Kindegarten. Ruang-ruang kelas dan ruang guru ditata menjadi semacam tempat konsultasi. Ada meja yang ditunggui dua orang relawan yang mencatat nama-nama dan perkara apa yang hendak diadukan.

Baru dibuka setengah jam daftar nama pengadu sudah hampir penuh. "Sudah empat puluh orang," kata Justus Chua menunjuk ke daftar nama itu. Setiap sesi jumpa rakyat itu selalu tak kurang dari 60 orang datang ke "praktik politik" itu. "Sampai pukul satu, biasanya baru semua selesai," kata Dr Maliki.

Saya menyebutnya praktik politik. Sebab, berlangsungnya persis seperti praktik dokter. Semua keluhan tercatat, semua terkontrol apakah nanti keluhan itu sudah diselesaikan. Petugas pencatat tidak sekedar mencatat nama dan memanggil nama-nama itu sesuai urutan. Dia juga mencatat keluhan pada lembaran kasus. Lalu, membuat draf masalahnya. Berdasarkan draf itulah kemudian Dr Maliki mencarikan jalan keluar.

"Kalau tiga atau empat minggu tak juga selesai, padahal sudah diberi jalan, berarti mereka sendiri yang mungkin salah. Apakah karena malas, atau soalannya terlalu pelik," kata Dr Maliki.

Dr Maliki orang yang efektif. Tegas dan lekas menawarkan solusi. Saya berada di ruangannya ketika ia menerima berturut-turut seorang lelaki etnis Melayu yang sudah tua, seorang perempuan etnis China dan anak gadisnya, serta sepasang suami istri etnis India dan anak lelakinya. Itulah, tiga di antara enam puluh orang yang mengadu padanya malam itu.

Si lelaki tua mengadukan ihwal flat yang ia tempati. Ia tak lagi bekerja dan tak sanggup mencicil kredit ke pemerintah. Ia ingin mengalihkan beban itu kepada anaknya yang sudah bekerja. Tapi ia cemas, bila kelak anaknya berumah tangga, bagaimana nasibnya.

Si perempuan China menangis ketika menyampaikan betapa hasil dagangnya tak menutup ongkos sewa kedai. Suaminya bekerja tak menentu, dan anak perempuan yang ia bawa belum bisa membantu apalagi bekerja.

Sementara pasangan India ingin pindah ke rumah yang lebih murah susun karena rumah susun yang mereka tempati sekarang terlalu mahal buat mereka akibat penghasilan berdagang yang juga anjlok.

Si lelaki Melayu tua itu sempat berkeras hendek menemui Menteri Perumahan. "Tak boleh macam tu, Pak Cik. Kalau semua orang nak jumpa dia apa guna saya. Saya boleh bantukan Pak Cik selesaikan perkara ini," katanya merayu dengan nada bicara cepat, tegas, hingga akhirnya si Pak Cik bertongkat tadi berlalu dengan wajah yang tampak puas. Ia keluar ruangan, dan sempat juga menyalami saya.

Saya menyaksikan betapa krisis ekonomi di negeri kota itu sudah terasa hingga ke lapisan rakyat terbawah. Surat kabar terbesar di Singapura, The Straits Times sudah meramalkan akan ada gelombang pengaguran besar tahun depan, seiring angka pertumbuhan yang anjlok hingga tiga persen, separo dari angka pertumbuhan tahun ini. Dan malam itu korbannya sudah mulai berjatuhan.

Dengan bahasa Inggris, Melayu dan Mandarin yang fasih Dr Maliki melayani mereka yang ia temui malam itu. Ia menjanjikan kepada perempuan China itu bahwa ia dua hari lagi mengutus relawan untuk menemui si pemilik kedai sewa. Solusinya, bisa keringanan sewa, penundaan sewa, atau bantuan voucher.

"Setiap anggota parlemen diberi allowance dan berhak mengeluarkan voucher seperti ini," kata Dr Maliki menunjukkan lembaran-lembaran voucer, seperti cek, di mejanya.

Voucher biasanya tidak akan diberikan langsung pada malam MPS, kecuali pada keadaan khusus, misalnya bila penduduk itu datang membawa anak sakit dan tak benar-benar tak sanggup berobat. Relawanlah yang dua hari kemudian datang langsung ke rumah penduduk yang malam itu dijanjikan bantuan.

"Ini untuk memastikan apa betul dia perlu bantuan," kata lelaki Melayu ini sudah dua kali duduk di parlemen. Ia tadinya pengajar yang tertarik dan sukses meniti karir politik dan menjadi anggota parlemen sejak 2001. Pemilu yang akan datang akan digelar 2010 nanti. Di kawasan ramai di Woodland saya lihat ada beberapa spanduk cetak digital memajang wajahnya dan ucapan selamat hari raya Devavali - hari raya umat Hindu.

MPS, kata Dr Maliki, adalah pertanggungjawabannya sebagai anggota parlemen kepada rakyat yang memilihnya. "Saya bisa pastikan apakah saya bisa menjaga dan memenuhi janji saya kepada rakyat yang memilih saya," kata lelaki yang juga menjabat sekretaris parlemen di Kementerian Pembangunan Nasional. Ya, Singapura menganut sistem parlementer. Para anggota parlemen juga duduk di kabinet.

Menjadi anggota parlemen adalah pekerjaan penuh waktu. "This is fulltime job. Saya hanya bekerja sebagai anggota parlemen, tak buka praktek dokter," katanya.

Ia punya perbandingan bagus. Ada kerabatnya yang juga duduk di parlemen Malaysia. "Di sana dia dipanggil Yang Berhormat, disingkat way be (YB, red). Saya di Singapura juga dipanggil YB, tapi artinya lain: Yang Berkhidmat," katanya.

Khidmat, dalam Kamus Dewan - kamus resmi Bahasa Melayu - diuraikan dalam tiga lema. Dua di antaranya berarti perbuatan yang menunjukkan kesetiaan atau pengabdian kepada negara dan lain-lain; dan satu lema lagi berarti kerja untuk memenuhi keperluan orang ramai. Saya kira itulah yang dimaksud oleh Dr Maliki.

Saya kira karena keseriusan dan keikhlasan berkhidmat itulah yang membuat seorang anggota perlemen di Singapura bertahan atau bila tidak terpental. Hau Gang, adalah anggota parlemen dari Worker Party di kawasan pemilihan Potong Pasir. "Dia memang bagus. Pemilih di sana percaya dengan dia," kata Justus.

Bahkan seorang menteri pun wajib menemui rakyat lewat MPS. "Saya pun masih ikut MPS. Tapi karena sudah tua saya tak kuat ikut seminggu sekali," kata Menteri Perdagangan dan Industri (MPI) Singapura Lim Hng Kiang.***

Selanjutnya...

Tentang Tiga Orang

SAYA menyebutnya sebagai Efek Sahabat Pena. Menyenangkan sekali rasanya ketika kita akhirnya bisa bertemu dengan orang yang sudah lama kita kenal. Seperti inilah mungkin pertemuan kita dengan Allah di Hari Kebangkitan kelak. Sejak kecil kita dikenalkan dengan-Nya. Karena kita bukan nabi, maka selama hidup tak ada kemungkinan kita bertemu wajah dengan-Nya, bukan? Ah, itu perkara iman yang bisa sederhana dan kadang bisa pelik. Saya tidak hendak menukik ke situ.




Saya hanya ingin bercerita tentang pertemuan saya dengan tiga orang yang sudah lama saya kenal jauh sebelum pertemuan itu. Pertemuan itu tentu saja menyenangkan. Mari saya ceritakan satu per satu.

Orang pertama saya kenal sebagai seniman. Sepenuhnya seniman. Kala itu saya tahu ia sudah tinggal di Amerika mengikuti tugas istrinya. Istrinya perempuan Hawaii, Amerika Serikat. Karena tinggal di Amerika, namanya di Indonesia nyaris hapus dari gebalau dunia kreatif yang belakangan makin ramai saja. Tapi di sana ia tak berhenti berkarya. Saya tahu, sebab ia kabarkan pada saya, di sana ia tampil di banyak tempat, mementaskan teater topeng yang ia kembangkan dari khazanah tradisional Bali, tanah kelahirannya.

Saya menjemputnya di Bandara Hang Nadim, untuk kemudian membawa ke Tanjungpinang. Dia akan tampil di Bintan Art Festival, Oktober lalu. Saya kira dia akan buru-buru. Saat-saat ini dia memang amat sibuk. Dalam dua pekan, dia harus ada di Kuala Lumpur, Tokyo, Tanjungpinang, Belitung dan kembali ke Jakarta lagi. Senilah yang membawanya terbang ke mana-mana.

Di mobil, saya menyetir, dia bercerita. "Saya belajar teater justru karena dulu saya pemalu," ujarnya. Ia sempat belajar di Yogya, di tahun 1960-an. Ekonomi negeri ini tak menentu. Politik apatah lagi. Suatu hari ayahnya tak lagi sanggup mengirim uang dan ia harus kembali ke Negara, Bali. "Saya membantu ayah saya berdagang kopra. Dari Bali bawa ke Surabaya," katanya.

Hidup baginya memang seperti teater. Pernah suatu kali ia harus pulang dengan kawalan polisi karena cemas dengan keamanan uang hasil penjualan kopra. Seperti adegan panggung, tarikan magnet kesenian membawanya ke Jakarta, menjelang Taman Ismail Marzuki dibuka. Seorang kawannya meyakinkan bahwa di sanalah tempatnya. Dia selama di Yogya, Bali dan Surabaya beberapa kali mementaskan teater dengan naskah dramawan dunia yang bahkan ia tulis ulang dari ingatan.

Di Jakarta ia berkawan dengan Arifin C Noor dan kiprah seninya makin menjadi-jadi. "Ada ruang di TIM yang kalau malam jadi tempat tidur kami. Kalau pagi, petugasnya membangunkan kami, karena kalau ketahuan pengurus TIM akan memarahi kami dan dia," katanya mengenang.

Kalau Anda pencinta teater tentu tahu seperti apa pencapaian pementasan "Kapai-Kapai" oleh Teater Ketjil. Nah, dialah yang berperan sebagai Abu dalam pementasan itu.

"Arifin menulis naskah di panggung. Bagian per bagian. Dia minta saya memainkan apa yang ada di kepalanya, lalu mengoreksi di sana sini, kalau dirasanya sudah pas, barulah dia tulis," katanya.

Mereka pemuja teater, pemuja akting. Maka, industri film yang saat itu sedang tumbuh subur adalah wilayah haram. Tapi, dia melanggarnya. Pelanggaran yang semula cuma keceplosan lidah.

"Lu mau main film, gak?" tanya seorang suruhan Turino Junaidi, sutradara laris kala itu.

Dia menolak, tapi secara main-main dia bilang, "Kalau sama Suzanna saya mau." Main-mainnya rupanya ditanggapi serius. Utusan tadi datang lagi kemudian hari dan menawarkan dia main dengan Suzanna, ratu film horor. Telanjur basah, ia berusaha menolak dengan jurus terakhir. "Kalau ada adegan pemerkosaan saya mau..." Sisanya adalah sejarah. Namanya tercantum di layar film "Bernafas dalam Lumpur". Dan film itu meledak. Ia sendiri jadi olok-olokan kawan-kawan seniman.

Dia kemudian identik dengan film laris. Di mana dia terlibat, filmnya akan meledak. Kita ingat "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" dan kini "Laskar Pelangi".

Saya kira dia akan buru-buru hari itu. Tapi, ternyata dia membawa sesuatu dari Tokyo untuk anak bungsu saya. Dulu saya memang pernah mengabarkan bahwa nama mereka sama. Saya memberi nama depan "Ikra" pada anak saya berdasarkan kesukaan pada namanya: Ikranegara. Dia pun singgah ke rumah kami, memberi t-shirt bergambar pesumo, memotret anak saya dalam gendongan Yana, istri saya. Itulah yang dipesankan oleh istrinya. Dia sendiri belum punya cucu. Dua anak lelakinya tinggal di Amerika, dan saat ini dia menunggu kelahiran cucu pertamanya.

Darinya saya belajar dua hal penting: keseriusan memilih dan meniti hidup di bidang seni, dan kerendahan hati. Dia seorang seniman penting di negeri ini yang jauh dari kesan seorang seniman besar.

***

Orang kedua yang ingin saya ceritakan adalah seorang pemuda. Belum dua puluh tahun. Dia memanggil saya Om. Kami bertemu di Singapura, pekan lalu. Dia bahkan harus menginap di hotel tempat saya tinggal. Puisilah yang mempertemukan kami. Saya kira, pada usia dia, wajar saja bila menghadapi semacam kegamangan pilihan. Dia punya bakat sastra. Ketika SMP dua kali dia menang lomba mengulas buku sastra. Dia menelaah buku Remi Silado dan Ayu Utami. Dia suka menulis puisi. Blog mempertemukan kami. Dia mengirim karya-karyanya dan saya mengulas sebisa saya. Saya lihat dia

berkembang. Puisi-puisinya semakin menemukan kekhasan. Ini tentu saja menggembirakan.
Dia sudah menerbitkan tiga antologi fotokopian. Saya kagum pada semangatnya. Ia harus menabung uang saku untuk buku puisinya itu. Saya memberi pengantar pada beberapa bukunya itu. Beberapa kali dia menelepon untuk konsultasi gratis mengenai perkembangan perpuisiannya. Tapi, saya tak mau dia jadi epigon saya. Kata saya, "Kamu harus lawan saya. Jangan jadi murid yang patuh. Membandellah..."

Ayahnya tidak suka dengan kegiatannya menyair. Di Singapura dia sekolah seni di tahun pertama, merancang busana di tahun kedua, dan tahun ini dia belajar bisnis fesyen. Dia bilang sejak semula ayahnya tukang jahit di Jakarta.

"Tukang jahit? Kok bisa sekolahkan kamu ke Singapura?"

"Papa saya nabung, Om..." kata pemuda yang melindungin mata sipitnya dengan kaca mata minus (pasti karena dia candu membaca) dan berambut lurus ini.

Yang pasti ayahnya ingin dia melanjutkan kelak usaha menjahit itu, katanya. Itu dunia yang hendak ia tolak. "Janganlah. Beruntung kamu bisa sekolah ke Singapura. Kamu kan bisa nanti jadi perancang busana, atau pengusaha garmen yang menyair. Kamu akan memperkaya dunia sastra Indonesia," saran saya.

Dari dia - ah, saya tak perlu sebut namanya, karena saya yakin dia kelak jadi seniman yang penting di Indonesia - saya belajar dua hal: keinginan kuat untuk mempertahankan dan mengembangkan bakat seni, dan juga kerendahan hati. Dua hal itu saya kira akan membawa dia arah yang benar.


***

Orang ketiga yang saya ingin ceritakan juga saya temui di Singapura. Dia seorang pengatur yang baik. Dia dulu mengelola mailing list (milis) di lingkaran Dewi Lestari yang kala itu baru akan menerbitkan buku Supernova. Milis itu berperan melambungkan Supernova menjadi buku laris. Rasanya tak ada buku yang dikelola seperti itu, dan kita tahu Supernova kemudian jadi sejarah penting dalam sastra Indonesia. Nah, lelaki Melayu Bangka inilah yang ada di balik milis itu.

Kami berkenalan di sebuah milis sastra. Dia punya banyak ide. Suatu hari dia mengelola penerbitan on demand yang melayani cetak dan terbit buku sesuai permintaan. Bahkan satu buku pun bisa. Dia pernah diskusi dengan saya soal radio sastra yang disiarkan lewat internet. Saya sungguh tak sampai pada ide-ide inkonvensional itu.

Ia juga mengelola berbagai milis tempat berkumpul orang-orang kreatif: musisi underground, peminat film, pekerja film, musisi jazz, pekerja seni pertunjukan, dan banyak milis yang lagi yang - bahkan oleh saya yang juga pernah menjadi moderator sebuah milis puisi - tak terbayangkan oleh saya. Iseng banget sih orang ini, pikir saya.

Tapi keisengan itu membawanya ke berbagai hal yang tak ia dua. Suatu hari dia baca Yahoo! Asia mencari manajer komunitas, istilah internasionalnya Communitu Manager. Dia kirim aplikasi, dan dua bulan kemudian, ketika dia sudah melupakan lamaran itu, orang Yahoo memintanya datang ke Singapura. Ia lewat serangkaian tes, dan singkirkan banyak pesaing sampai akhirnya, malam itu, di Starbuck Cafe, di dekat Stasiun MRT City Hall, dia memberikan kartu namanya dengan jabatan yang aneh rasanya: Community Manager.

"Saya juga heran, kok bisa. Ini kerjaan gak ada sekolahnya," katanya, kami tertawa. Dia dulu kuliah desain di ITB. Kecintaan pada musik ia rawat. Ia bekerja selalu tak jauh dari dunia kreativitas.

Di Singapura, kesibukan kerja tak juga membuatnya berhenti berkreasi. Ia gagas puisi progresif - saya ikutan proyek ini -, dan ia kelola radio internet www.voiceofjakarta.com. Ini radio yang unik karena penyiarnya berserak di mana-mana. Ada yang di Chicago, ada yang di Singapura, ada yang di Jakarta. Pendengarnya ada di mana-mana, belum banyak, tapi ini sebuah stasiun yang dikelola serius, dan visinya jelas. Malam-malam deadline di kantor saya suka mendengarkan radio ini, terutama Sabtu malam. Ada Alfred Ticoalu yang fasih sekali dengan sejarah musik Jazz. Radio ini jadi mitra Jakjazz tahun ini.

Dari dia saya juga belajar dua hal: kecintaan pada seni dan keberanian mencoba dan masuk ke wilayah-wilayah yang bahkan tak terbayangkan bila kelak itu bisa menjadi sesuatu yang bisa ditekuni dengan serius dan menjamin kehidupan. Saya tak akan sebutkan namanya, karena saya yakin dia kelak akan menjadi penting di ranah kesenian di negeri ini dan Anda pasti akan membaca namanya entah di sebuah publikasi mana.***

Selanjutnya...

Oktober 18, 2008

Panduan Penulisan: Jenis Penuturan

[Dikirim oleh Rumah Pena di milis Jurnalisme, Sabtu 18 Oktober 2008]

Ketika menulis, kita bisa pula memakai beberapa jenis teknik penuturan untuk
memperkaya tulisan. Ada beberapa jenis penuturan yaitu, Narasi, Deskripsi, Eksposisi dan dan Persuasi.



A. NARASI

1. Mengisahkan peristiwa atau obyek bagian per bagian.

Contoh:

Rumah Badu sangat besar. Bergaya arsitektur Jawa, rumah itu terletak di Jalan Kencana. Di halaman rumah ada air mancur dengan patung anak kecil yang tangannya menunjuk pintu besar ruang tamu rumah utama. Pintunya berukir Jepara. Di dalam ruang tamu ada lemari buku besar dan lemari lebih kecil berisi koleksi keris serta kerajinan lain. Sebuah lukisan besar memisahkan antara ruang tamu itu dengan ruang keluarga yang berisi satu set home theater. Dan seterusnya…


2. Menjelaskan sesuatu dari asal-muasalnya.

Contoh:
Kopi kini menjadi jenis minuman yang paling banyak ditenggak di seluruh dunia. Konsumsi kopi terus meningkat di seluruh dunia. Tahukah Anda dari mana tanaman ini berasal? Tanaman kopi berasal dari Jawa. Tanaman ini mulai dibudidayakan sejak abad ke-18. Kopi yang ditanam di Jawa kala itu sudah diekspor ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika dan Eropa.


B. DESKRIPSI

Melukis dalam benak pembaca, cukup detil sehingga pembaca bisa merasakan lukisan itu dengan seluruh inderanya.

Contoh 1:
Desa Adiluhung terletak di tepi air terjun Taman Nasional Mahakam. Anak-anak desa suka bermain di bawah air terjun yang jenih itu, demikian jernih sehinggga ikan-ikan tampak ikut berenang bersama mereka. Batu-batu di dasar sungai membentuk seperti mosaik yang kaya warna…


Contoh 2:
Perempuan itu berdiri di bawah rintik hujan, mengenakan gaun hitam dan bertopi merah. Tetesan air menimpa wajahnya, mengalir melalui pipinya menuju dagunya yang berbelah pinang. Butir air menyerupai embun menempel di bibirnya yang dipoles lipstik merah delima.


C. EKSPOSISI

Menjelaskan, memperlihatkan atau mengisahkan kenapa sesuatu terjadi, melalui rangkaian sebab dan akibat.

Contoh:
Jakarta ibarat lelaki setengah baya yang tambun dan kebanyakan kolesterol. Metropolitan Jakarta sekarang berpenduduk 10 juta jiwa dan bertambah pesat pertumbuhan penduduknya. Sekitar 100.000 orang setiap tahunnya datang dari pelosok Indonesia. Daya dukung lingkungan Jakarta mulai terengah-engah memenuhi hidup sehari-hari warganya.


D. PERSUASI


Menulis untuk mengajak pembaca menyetujui sebuah sudut pandang akan masalah, untuk menggerakkan emosi mereka, bahkan untuk beraksi seperti dikehendaki penulisnya.

Contoh:
Pencabutan subsidi BBM akan mempersulit hidup orang miskin. Jumlah orang miskin bahkan akan bertambah jutaan akibat naiknya harga barang dan layanan, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan dasar.


Jumlah subsidi BBM tidaklah besar. Dalam anggaran kita beberapa tahun terakhir, pos pembayaran utang selalu paling besar, sekitar 50% dari seluruh pengeluaran pemerintah. Kenapa pemerintah mencabut subsidi bukannya menegosiasikan pengurangan utang? Kenapa pemerintah lebih suka mempersulit hidup rakyatnya ketimbang membebani diri dengan rasa malu untuk meminta pemotongan utang dari kreditor internasional?


Kenaikan harga minyak memang problematis. Tapi, adalah amoral mengalihkan beban kerja keras pejabat pemerintah menjadi beban rakyat kebanyakan yang sudah susah.

Selanjutnya...

Oktober 16, 2008

Desain Sampul Buku




Beberapa kolom saya di blog ini saya atur menjadi satu naskah buku motivasi. Saya sudah tawarkan buku itu ke beberapa penerbit. Bila kelak buku itu terbit, saya bayangkan sampul depannya akan jadi seperti ini. Saya suka sekali buku-buku motivasi dan kepemimpinan John C Maxwell, desain ini saya rancang berdasarkan kesukaan itu, saya mengambil ide dari bukunya Failing Forward (Penerbit Interaksara).


Selanjutnya...